Malaikat pelindung
“Kejutan apa lagi untuk hari ini ??” kalimat itu setiap pagi selalu muncul di kepala seorang cowok berusia 17 tahun yang memiliki nama lengkap Putra Pradana Riski. Sedari tadi Riski rasanya enggan keluar dari kamarnya karena saat ini juga dia harus berangkat ke sekolah. Riski adalah salah satu siswa kelas XI.IA.2 yang mulai merasa sangat enggan masuk sekolah bukan karena pelajaran yang semakin lama semakin sulit tetapi karena di kelasnya ada cewek yang di rasa dia punya kelainan otak. Tapi mau nggak mau dengan kejutan itu Riski tetap harus berangkat ke sekolah karena hari ini ada ulangan Fisika.
“Riski !!” suara yang sangat tidak asing di telinga Riski ini cukup
merubah suasana hati Risky yang tadinya malas menjadi sangat malas. Itu suara Debi, murid baru pindahan dari Bandung. Sejak pertama Debi menginjakkan kakinya di SMA N 1 Gondang dia selalu berusaha untuk mendekati Riski. Awalnya Riski mau bersikap baik sama Debi tapi lama-lama sikapnya berubah jadi dingin.
“Apa ?” jawab Riski dengan nada dingin.
“Nggak ada apa-apa, cuma pengen ngucapin selamat pagi aja. Nggak boleh??” jawab Debi dengan nada manja, tapi itu pun tetep nggak bisa merubah pemandangan sepet yang sedang terlukis jelas di raut muka Riski. “ngapain sih lo jutek banget ma gue?? Sambung Debi”.
“Lo tuh seharusnya nyadar
sendiri kenapa gue begini sama elo, Lo tuh nggak nyadar apa sama apa yang elo lakuin ke gue?? Kayak gitu gue masih harus sabar ngadepin lo?? Nggak bisa Deb, kalo elo manusia nggak mungkin elo kayak gitu” bentak Riski. Baru kali ini Riski mau ngomong panjang dengan nada tinggi, Debi yang tadinya pura-pura memelas jadi sedikit heran melihat wajah menyeramkan Riski.
“Lo lagi dapet?? Hahahaha !!” Goda Debi..
“Terserah !!” Riski yang seharusnya berjalan searah dengan Debi untuk menuju kelas jadi membelokkan badannya dan berjalan menuju kamar mandi yang kebetulan baru saja dia lewati agar dia nggak melihat muka murid baru yang di anggapnya menyebalkan itu.
“Teng !! teng !!” bel masuk mulai berbunyi. Usaha Riski untuk menghindar dari muka Debi serasa sia-sia karena Riski melihat muka itu duduk di sebelah bangku yang biasa dia tempati. Riski hanya melihat sebentar kearah Debi dan langsung berjalan menuju bangku yang di tempati Alvin. Riski tau kalau Alvin sangat suka sama Debi jadi Riski menyuruh Alvin untuk pindah ke tempat biasanya dia duduk, Alvin pun bergegas dengan senang hati.
Debi nggak terima saat posisi itu di gantikan oleh Alvin. Di saat Debi hendak pindah ke sebelah bangku yang di tempati oleh Riski ternyata rencana Debi di gagalkan oleh masuknya Bu Yanti ke dalam kelas. Helaian nafas lega akhirnya di hirup juga oleh hidung Riski karena gagalnya rencana Debi untuk duduk di sebelahnya.
“drrrtt..drrttt..” 1 pesan di terima “waktu berharga banget bwt km & km gk akan buang waktu km cuma buat orang seperti Debi. Dari: 085731357230”
“Dan gue juga nggak akan buang waktu atau pulsa gue cuma buat nyari tau lo siapa” balas Riski dalam hati tanpa membalas sms tadi.
“drrtt..drrtt..”
“HP kamu ibu sita !!” suara ibu Yanti cukup menghentikan gerak Riski yang hendak membuka sms yang barusan masuk di HPnya. Tanpa banyak alasan, Riski langsung memberikan HPnya pada Bu Yanti. “sekarang kita lanjutkan pelajaran kita, dan Riski nanti temui ibu di kantor pada jam istirahat” Riski hanya bisa diam dan memang nggak mau komentar apa pun.
“Ris..ris..” panggil Agung yang duduk di belakang Riski dengan nada setengah berbisik sambil menyodorkan potongan kertas lecek.
‘Apa ni ??”
“Tuh dari belakang sambil menunjuk ke arah Debi”
“oh” Riski mengambil kertas itu dan membukanya “tumben lo maen HP di kelas, kenapa siih ??” setelah membaca surat tadi Riski langsung meremas dan memasukannya ke dalam laci.
==*==
Akhirnya jam istirahat dan sesuai dengan perintah Bu Yanti, Riski langsung menemui beliau di kantor.
“Permisi bu” sapa Riski saat hendak memasuki kantor untuk menemui Bu Yanti. Riski melihat Bu Yanti sedang sibuk mengoreksi ulangan siswa-siswanya jadi tanpa dipersilahkan Riski langsung masuk dan menuju tempat Bu Yanti duduk.
“Duduk ris” Riski pun menuruti perintah Bu Yanti untuk duduk “Ibu heran sama kamu Ris” sambung Bu Yanti saat melihat Riski yang sedangduduk.
“Heran kenapa bu ??” jawab Riski
“kamu ada masalah ??”
“Masalah ??” pertanyaan itu membuat Riski semakin nggak ngerti apa maksud Bu Yanti karena Riski merasa nggak ada masalah serius yang melibatkan urusan sekolah atau membuat dia nggak konsen belajar.
“Nilai ulangan kamu turun Ris, bukan cuma turun tapi berubah. Seperti bukan kamu yang biasanya, ibu sangat hafal bagaimana jawaban kamu di saat kamu mulai merasa kesulitan” jelas Bu Yanti tapi Riski masih bingung. Melihat raut muka Riski yang seperti induk ayam kehilangan anaknya maka Bu Yanti langsung memberikan hasil ulangan Riski “coba lihat ulangan kamu” lalu Riski membaca kertas jawaban yang diberikan oleh Bu Yanti tersebut “menurut kamu apa jawaban seperti itu wajar untuk pelajaran Kimia ibu ??” nada bicara Bu Yanti mulai mengeras.
“Ini bukan jawaban saya bu, bukan ini jawaban yang saya tulis” Riski benar-benar nggak ngerti sama apa yang dia lihat saat ini.
“Tapi ini tulisan kamu dan sudah sangat jelas nama kamu tertulis di kertas ini”
“Tulisan ini cuma mirip bu, tapi bukan saya yang menulis”
“Ibu rasa kamu kurang istirahat” Riski hanya bisa diam “kamu salah satu siswa yang menurut ibu patut di banggakan jadi ibu nggak ingin kamu berubah hanya karena satu masalah” Riski sudah nggak tau lagi harus jelasin apa lagi ke Bu Yanti karena Bu Yanti benar. Yang tertera di kertas ulangan itu adalah nama dan tulisan yang sangat mirip sama tulisan Riski. “kamu boleh kembali ke kelas kamu dan ini HP kamu, jangan main HP saat jam pelajaran lagi ya”
“Iya bu” lalu Riski segera bangkit dari tempat duduknya dan beranjak menuju kelas untuk menenagkan diri.
Sesampainya di kelas Riski sedikit lega karena kelas sangat sepi, nggak ada orang satu pun jadi nggak akan ada yang mengganggunya untuk menenangkan diri sejenak. Riski mulai ingat kalau tadi dia mendapat sms yang belum sempat dia baca. Riski meraih HP dari kantong dan setelah di lihat ternyata pengirimnya sama dengan yang tadi pagi. “Debi emang orng yg gk penting buat km tp suatu saat km akan merasa betepa berartinya Debi buat km”.
“Nggak penting banget sih ni orang” hanya kalimat itu yang ada dalam otak Riski. “sampai kapan dia berhenti ?? apa mau dia ??” Tanya Riski dalam hati.
“Riski, lo nggak papa ??” lamunan Riski pecah karena datangnya suara yang sama sekali nggak dia harapkan itu.
“Nggak papa !!” jawab Riski ketus tapi jawaban itu nggak membuat senyum manis Debi redup karena dia udah terbiasa dengan sikap dinginya Riski. Sebenarnya banyak teman-teman Riski yang iri karena menurut mereka Riski beruntung di dekati cewek yang udah cantik di tambah manis lagi. Nggak kebayang kan gimana cantiknya Debi tapi kesempurnaan itu nggak bisa membuat Riski sedikit menoleh sama Debi. Buat Riski Debi cewek biasa, sama seperti teman cewek yang lain.”Sekarang lo puas kan !!” sambung Riski dengan nada pelan tapi mantep.
“Puas ?? maksud lo apa ??” tanya Debi heran.
“Iya lo nggak usah banyak basa-basi, lo puas nggak sekarang ??” nada suara itu semakin terdengar mengerikan.
“Belum puas…” jawab Debi ragu tapi dia masih berusaha tenang. “Gue mau ke kantin, lo nitip nggak ??”
“ Kalo ada beliin gue obat penyakit jiwa buat gue cekokin ke tenggorokan elo”
Mendengar itu Debi hanya tersenyum “gue beliin minum ya biar agak tenang” Debi masih berusaha menenangkan Riski yang tengah di landa emosi tinggi. Karena nggak ada jawaban pasti dari Riski jadi Debi langsung pergi meninggalkan Riski sendiri di kelas.
Setelah beberapa menit berlalu akhirnya Debi kembali lagi ke kelas, di sana dia melihat sesuatu yang sulit dia percaya. Lalu Debi sesegera mungkin pergi meninggalkan kelas dengan tubuh yang masih gemetar.
“Lo kenapa deb ??” tanya Sarah dengan penuh rasa cemas tapi Debi hanya diam. Melihat keadaan sahabatnya seperti itu akhirnya membuat sarah jadi lebih khawatir. “lo tenang ya Deb. Minum ini punya elo kan, elo minum ya dikit biar tenang” Sarah meraih botol minuman yang di bawa oleh Debi dan membukannya.
==*==
Sepulang dari sekolah Riski merasa sangat lelah dan pastinya sangat jengkel karena kejadian di sekolah tadi. Setelah membuka pintu rumah Riski langsung melepas sepatu dan tasnya untuk di letakkan di tempat dimana dia biasa menaruhnya. Setelah itu Riski mulai mengambil air wudlu dan langsung sholat. Seperti yang biasa dia lakukan setiap habis sholat di lanjutkan dengan makan siang. Riski memang seorang cowok yang sangat rapi dan teratur, jadi nggak heran kalau kegiatan dia sehari-hari sudah terjadwal. Setelah menyelesaikan makan siangnya Riski langsung memasuki kamar dia untuk berusaha melepaskan kepenatan dia hari ini yaitu dengan cara tidur siang. Riski masih kepikiran tentang kejadian di sekolah tadi dan membuat dia jadi sulit memejamkan mata “kali ini benar-benar keterlaluan”. Riski meraih HPnya yang sedari tadi ada di dalam tasnya. Tanpa ia sadari ternyata ada 3 sms masuk, dua sms dari Debi dan satu sms lagi dari orang yang tadi pagi mengirimkan sms nggak jelas. Riski terlebih dahulu membuka sms dari orang yang tak dia kenal itu “udah saatnya km ikuti permainannya. Nggak semua permainan membosankan kok.. udah saatnya juga km temui hal yg blm prnh km lihat. Km ckup cerdas untuk permainan sepele seperti ini” dari sms itu Riski hanya terpaku dengan satu kata saja yaitu kata “permainan” Riski diam sejenak untuk berfikir tentang maksud dari kata tersebut.
Lalu Riski melanjutkan membuka sms yang tadi belum dia baca “lo dimana ?? gw d kls nih”. Mungkin sms ini di kirim saat jam isirahat tadi, itu aja yang ada di pikiran Riski. Lalu dia melanjutkan untuk membaca sms yang satu lagi “ntar sore gw pgn ktmu ma lo. Gw tunggu di sekolah jam 4. kalo lo gk dtng gw bakal samperin ke rumah lo” Riski jadi nggak ngerti apa mau cewek ini. Riski menulis balasan untuk Debi dengan singkat “ya” lalu pesan itu di kirim. Riski nggak suka membawa masalah sekolahnya ke dalam rumah, karena Riski yakin pasti akan timbul banyak pertanyaan dari orang rumah. Akhirnya Riski memutuskan untuk tidur siang dulu untuk melepas lelahnya hari ini dan menunggu waktu pukul 4
==*==
“Gw tau lo gk suka nunggu jd gw skrng udah nungguin lo di skul” itu sms Debi yang baru saja di baca oleh Riski. Debi memang benar, Riski bukan orang yang suka di bikin nunggu. Kalau ada yang membuatnya menunggu maka dia akan menganggap hal itu sebagai wujud penghinaan. Setelah membuka sms tadi Riski langsung berangkat ke sekolah karena Riski nggak mau lama-lama membuang waktunya.
Setelah 10 menit akhirnya Riski sampai di sekolah, suasana sekolah sangat sepi karena hari ini memang nggak ada jadwal ekskul. Riski langsung berjalan menuju taman yang berada di depan kelas XI.IA. Tanpa dia sangka ternyata Debi udah berada di sana, Riski mendekati posisi duduk Debi dan Debi tersenyum.
“gue tau kalo lo bakal langsung ke tempat ini” Debi berusaha mengawali prmbicaraan. Debi sangat yakin kalau pun Riski melihat Debi Lebih dahulu Riski nggak akan mau mengawali pembicaraan atau hanya sebatas berkata “hei”.
“Sekarang lo mau apa ??” jawab Riski tanpa basa-basi
“Gue cuma mau kasih ini” sambil memberikan bungkusan berwarna putih besar yang sedari tadi dia pegang.
“Apa ??”
“Lo lihat di rumah aja, gue tau kalo lo butuh itu”
“Nggak mau” jawab Riski singkat.
“Kali ini gue minta tolong sama lo, tolong lo terima”
“Oke, gue terima. Mungkin juga udah saatnya gue rubah sikap gue sama elo”
Debi tersenyum senang dan nggak percaya kalau Riski akan ngomong seperti itu “makasih ris”.
“Gue yang harusnya bilang makasih udah lo kasih ini buat gue”
Debi semakin nggak bisa percaya sama apa yang dia lihat dan dia dengar. Debi melihat Riski tersenyum dengannya dan dia juga mendengar Riski ngomongnya nggak dingin lagi “gue pulang dulu ya”.
“iya”
Riski memperhatikan langkah Debi yang semakin jauh. Riski hanya terdiam melihat apa yang di bawa saat itu, tanpa menunggu sampai rumah dia langsung membuka bungkus itu. Yang dia lihat saat itu adalah sebuah tas “cuma dia yang tau kejadian tadi siang ??”. Riski juga merasa ada gunanya membuka bungkus kado itu sebelum di rumah karena dia bakal malu banget kalau pulang membawa bungkusan besar.
Bungkus yang tadinya menyelimuti tas itu di buangnya ke tempat sampah sambil dia berjalan menuju tempat parkir. Sesampainya di tempat parkir Riski melihat motor Debi masih ada di sana tapi Riski nggak perduli, dia langsung mengambil motornya dan pulang.
==*==
“Tas baru ris ??” Tanya mama Riski saat dia hendak berpamitan untuk berangkat sekolah.
“Iya ma” jawab Riski
“Kok tumben kamu nggak minta uang mama ??”
“Riski di kasih temennya Riski ma”
“Kenapa dia mau ngasih kamu ??”
“Nggak tau ma, yaudah Riski berangkat dulu ya ma. Assalammualaikum” pamit Riski sambil mencium tangan mamanya
“Waalaikum salam. Hati-hati ya”
“Iya”
Pagi ini Riski berangkat sekolah dengan pemandangan muka yang agak berbeda, dia terlihat lebih semangat dari biasanya. Entah ada angin apa yang bisa membuat Riski menjadi seperti itu.
Sesampai di sekolah dia langsung berjalan menuju kelas dan seperti biasa juga, kedatangannya di sambut oleh Debi.
“Pagi Ris” sapa Debi pada Riski
“Pagi” singkat, tapi udah nggak pakai galak lagi
“Hari ini gue kok nggak liat muka sepet lo sih ??”
“Gara-gara ada yang baru, gue suka kok”
Setelah berkata seperti itu Riski langsung pergi mendahului Debi tapi Debi malah berhenti. Debi kurang percaya dengan apa yang baru saja dia dengar “artinya lo suka ??” tanya Debi setengah berteriak karena posisi Riski yang semakin menjauh. Riski mendengar itu tapi dia nggak mengeluarkan satu kata pun. Debi nggak peduli soal itu yang penting dia tau Riski menyukai tas pemberian nya.
Riski lebih dulu sampai di kelas, dia kembali duduk di tempat yang kemarin sempat dia tinggalkan. Lalu muncul muka Debi dari balik pintu dan bergerak cepat ke arah Riski dan mengambil alih tempat duduk sebelah Riski.
“Ngapain lo disini ??” Tanya Riski jutek lagi.
“Biarin, gue pengen duduk sebelah elo aja. Kenapa ?? nggak suka ??” jawab Debi tanpa rasa nggak enak sedikit pun, padahal secara nggak langsung Riski sedang berusaha mengusirnya.
“Terserah, gue nggak perduli asal lo jangan ganggu gue aja” jawab Riski.
“Siap deh !!”.
“Lo tu kenapa sih seneng banget deket-deket gue ??”.
“Gue suka liat mata elo”.
“Mata ?? emang mata gue kanapa ??”
“Nggak tau, gue suka aja soalnya gue kalo nilai cowok yang pertama gue perhatiin cuma mata. Baru pertama kali ini ngerasa nyaman liat mata orang” secara nggak sengaja Debi jadi curhat sama Riski dan nggak tau kenapa saat Debi curhat Riski mau dengerin sampai ikut berpikir.
“Baru kali ini gue tau ada orang yang bisa suka ma orang gara-gara mata. Gue yakin kalo bukan itu alasan lo deketin gue”
“Terserah sih mau percaya ato nggak, tapi emang gitu kok kenyataanya. Gue juga jarang bisa natap mata orang, gue baru bener-bener bisa natap mata orang kalo gue lihat bintang di mata orang itu”
“Konyol, bintang tu di langit !! ngapain lo nyari di mata orang ??”
“Kali ini kita bahas perasaan ya, bukan pelajaran” nada Debi setengah jengkel
“Hahaha !! bisa kesel juga lo ??”
“Gue juga manusia tau !!”
“Awalnya sih gue pikir lo bukan manusia”
“Iiiiihh..nyebelin banget sih lo”
“Emang kenapa kalo nyebelin ?? lo juga nggak bisa benci ma gue”
“Iya juga sih, tau nih kenapa gue bego banget”
“Emang”
Akhirnya momen yang selama ini di nantikan Debi muncul juga. Dia bisa ngobrol nyantai sama Riski sampai sifat manja yang selama ini dia sembunyikan jadi sedikit muncul. Sebenarnya itu malah jadi poin plus juga buat Debi karena Riski suka gemes kalau lihat cewek manja.
Jam pelajaran akhirnya di mulai dan mau nggak mau kebahagiaan Debi harus di akhiri sekarang juga sebelum dia mendapat penderitaan dari Bu Dwi. Guru yang terkenal sangat killer sampai-sampai lalat nggak ada yang berani berdansa di atas kotak pensil beliau karena takut di pelototin.
==*==
“Teng!! teng!! teng!!” bel yang sedari jam 7 tadi telah di nanti para siswa SMA N 1 Gondang akhirnya muncul juga. Waktunya pulang !! itulah sebab kenapa hampir semua siswa menanti bel itu. Karena mereka sekolah hanya untuk menunggu bel istirahat dan pulang saja, bel masuk malah di anggep terompet kematian. Tapi semua itu nggak berlaku buat Debi, bel pulang buat Debi artinya berakhirnya dia melihat bintang.
Di saat sekolah mulai terlihat sepi Debi baru keluar dari kelas dan berjalan menuju taman dimana dia kemarin bertemu dengan Riski. Taman itu berada tepat di depan pintu kelas XII.IA.2, kelas Debi dan Riski.
“Ngapain disini ??” suara Riski tiba-tiba muncul dari belakang Debi yang sedang duduk di bangku taman, menghadap ke arah pintu kelas.
“Lo sendiri ngapain ??” jawab Debi setengah heran karena melihat Riski masih berada di sekolah.
“Gue tadi sengaja sholat dhuhur di sekolah” jawab Riski
“Masjid kan di depan, ngapain lo disini ??”
“Ada yang ketinggalan”
“Apa ?”
“HP gue”
“Oh iya, gue yang bawa ya ?? maaf gue lupa”
“Bukan nya lo emang pelupa”
“Dikit sih, gue aja nggak bisa lupa sama elo”
“Bullshit”
“Lo tu seneng banget sih marah-marah, ada kelainan lo ya ??”
“Lo sendiri maunya apa deket-deket gue terus ??”
“Gue pengen bisa liat mata lo setiap hari”
“Gue nggak percaya itu alasan lo. Gue pulang dulu” ucap Riski sambil berlalu meninggalkan Debi.
“Waktu gue tinggal dikit, gue harus bisa selesaikan ini semua secepat mungkin” ucap Debi pelan saat dia merasa kalau Riski udah nggak ada di sekitar situ. Tapi dugaan Debi salah, Riski masih berada di sekitar situ karena tali sepatunya terinjak oleh kakinya sendiri jadi dia berhenti untuk membenahi tali yang lepas itu.
Tanpa di sengaja Riski mendengar ucapan Debi, hanya senyum kecil yang di keluarkan oleh bibir Riski. Lalu dia segera melanjutkan perjalanannya yang sempat terhenti.
==*==
“Hai..ngapain tu ??” sms dari Debi yang baru saja masuk ke HP Riski tanpa mikir panjang lagi Riski langsung menjawab sms tadi “gk ngpa2in. knp ??”. setelah beberapa detik Riski mendapat jawaban dari Debi “mkn bareng yuk, gw yg traktir..cuma lo jmput gw di skul skrg”.
“Ni orang maunya apa sih ??” Tanya yang selalu muncul dalam otak Riski tapi sampai saat ini dia nggak bisa nemuin jawabanya. Untuk ke dua kalinya Riski meng-iyakan ajakan Debi untuk bertemu dan pertama kalinya juga Riski mau menjemput Debi. Riski yang tadinya sedang tiduran di kamar langsung bersiap untuk berangkat ke sekolah. Kebetulan juga cacing yang ada di perut Riski mulai demo dan harus segera di amankan sebelum mengancam keselamatan isi perut Riski.
Gerbang sekolah semakin dekat dan Riski sudah melihat sosok Debi sedang berdiri di depan pintu. Debi masih mengenakan seragam lengkap, Riski baru menyadari bahwa sedari tadi Debi belum pulang ke rumah juga.
Riski berhenti tepat di depan Debi “cepet naik !!” Suruh Riski.
“Sabar kenapa ? baru juga nyampai”.
“Laper gue” jawab Riski singkat.
“Yayaya..gue ngerti” Debi langsung naik dan duduk di belakang Riski.
Riski dan Debi memutuskan untuk berhenti di rumah makan depan SMA Taruna Nusa Harapan Mojokerto. Setelah masuk ke dalam Riski dan Debi bertemu teman sekelas mereka yang juga sahabat Debi sedang makan di sana. Sarah terlihat sangat kaget melihat mereka berdua ada di tempat itu.
“Ris, lo pesen dulu dah, ni dompet gue bawa. Lo ambil sendiri, gue mau temuin Sarah bentar” ucap Debi sambil memberikan dompetnya pada Riski dan Riski menuruti kata-katanya lalu pergi ke tempat
pemesanan makanan.
Debi berjalan menuju ke arah Sarah tapi Sarah malah bersiap-siap untuk pergi. Melihat kelakuan sahabatnya itu membuat Debi kehilangan senyum yang sedari tadi Debi kantongi.
“Lo mau kemana sar ?? kok lo pergi ??” Tanya Debi sedikit khawatir tapi Sarah nggak mau membuka mulutnya sedikit pun dan langsung buru-buru pergi dari tempat itu. Karena Debi masih belum ngerti apa yang telah terjadi terhadap sahabatnya itu maka dia juga ikut keluar untuk mengejar Sarah.
Sesampai di luar halaman tempat itu akhirnya Debi mampu mengejar Sarah dan menarik tangan Sarah tapi Sarah berusaha melepas tangan Debi dan Debi melepaskannya.
“Lo tu kenapa sih ??” Tanya Debi
“Lo tu yang kenapa ??” jawab Sarah sedikit emosi
“Maksud lo apa ??”
“Pikir sendiri” lalu sarah berjalan mininggalkan Debi
Debi terdiam sejenak “Lo suka sama Riski ??” pertanyaan itu tiba-tiba saja terucap di bibir Debi dan tanpa di sengaja juga mata Debi menjadi berkaca-kaca. Tapi mendengar pertanyaan itu Sarah hanya membalik badan nya sebentar lalu kembali lagi berjalan menuju tempat dia memarkir motor. “kenapa Sarah berubah ?? apa bener dia suka sama Riski ??” pertanyaan itu sekarang mulai jadi hantu di kepala Debi.
Debi kembali ke dalam rumah makan itu untuk menemui Riski kembali. Di sana dia melihat Riski sedang duduk di bangku paling belakang dan Debi pun berjalan menuju kesana lalu duduk di depan tempat Riski duduk.
“Gue dah pesenin lo, terserah lo suka apa nggak” ucap Riski yang sedang duduk tanpa memegang makanannya sedikit pun.
“Kok lo nggak makan ??” Tanya Debi pelan. Sekarang Debi kelihatan seperti orang nyasar yang bingung nyari dimana rumahnya.
“Gue nungguin lo laah” lalu Riski membuka bungkus chesse burger yang ada di depan nya “gue makan dulu ya, laper” tanpa perduli dengan apa yang udah terjadi sama Debi, Riski langsung memakan makannan yang dia pegang itu.
“Gue nggak laper” ucap Debi tiba-tiba. Mendengar itu Riski langsung menghentikan makannya dan barulah dia tahu kalau Debi sedang sedih.
“Makanannya kan kasian, lo nggak suka ma pesenan gue ??” ucap Riski dambil sedikit merayu Debi agar dia mau memakan makanannya.
“ehhm..nggak kok, gue suka”
“yaudah lo makan ya” kata-kata itu sebernya cukup membuat Debi sedikit lega tapi dia belum bisa menghapus kesedihannya. Lalu Debi perlahan mengambil makanan di depan nya dan memakannya sedikit demi sedikit.
Buat Debi semua ini terasa sia-sia kalau dia mendapat sedikit perhatian dari Riski tetapi harus kehilangan segunung perhatian dari sahabatnya.
“Gue mau pulang !!” tiba-tiba kalimat itu mengagetkan Riski yang sedang berkonsentrasi dengan serat-serat yang terkandung dalam makanan itu.
“Enak aja, makanan gue tinggal dikit” tolak Riski mentah-mentah.
“Lo terusin sendiri aja, gue mau pulang !!” tanpa pikir panjang Debi langsung pergi meninggalkan Riski sendirian di tempat itu. Akhirnya Riski mau nggak mau harus mau menghentikan aktifitas makan nya itu dan menyusul Debi yang sedang berusaha pulang jalan kaki.
“Eh bego, lo tu ngapain sih ??” sentak Riski dari belakang setelah ia berhasil menyusul Debi.
Akhirnya Debi berhenti dan melihat ke arah Riski “gue mau pulang” jawab Debi tapi setelah itu dia langsung kembali berjalan.
“Gue juga mau pulang, lo jangan bikin gue semakin nglanggar lalu lintas dong. Ini jalan searah dan gue belum punya SIM. Lo liat juga dong sekarang mendung, bentar lagi hujan. Lo juga mau nyampe rumah besok ?? orang dompet lo masih di gue. Lo balik nggak ?? kalo lo nggak mau balik gue pulang sendiri.”
Debi baru ingat kalu dompetnya masih di bawa oleh Riski, mustahil untuk Debi jika dia harus pulang jalan kaki sampai rumah. Debi memutuskan untuk memutar balik arah perjalanannya jadi menuju ke arah Riski berhenti menunggunya.
Sesampai di sebelah Riski Debi langsung mengambil helm yang ada di tangan kiri Riski dan segera naik ke atas motor. Tanpa banyak tanya Riski langsung memutar balik motornya dan mengikuti arah yang benar. Saat itu pandangan Debi benar-benar kosong, sampai dia nggak tau Riski membawa dia kemana.
Tiba-tiba Riski menghentikan laju motornya yang Debi yakini itu bukan rumahnya.
“Ngapain kita kesini ??” Tanya Debi setelah dia turun dari motor
“Kita naik yuk” Riski mengajak Debi ke atas bangunan yang ada di atas pinggiran sungai besar. Debi menuruti kata-kata Riski untuk naik ke tempat itu. Sesampainya di atas Debi merasa sedang berdiri di atas kapal yang sedang berada di tengah laut. “Sungai ini emang nggak seindah laut yang biasa lo lihat di bali tapi gue yakin kalo disini lo bakal bisa ngerasa sedikit tenang” sambung Riski saat mereka berada di pinggiran tempat itu untuk melihat lebih jelas kekayaan kota yang mereka tinggali. Debi masih belum bisa berkomentar apa-apa, dia hanya melihat ke arah sungai sambil menahan tetesan air mata yang hampir jatuh. “Sarah kenapa ??” Tanya Riski.
“Dia suka sama elo” jawab Debi di dampingi dengan jatuhnya tetesan air mata ke pipinya itu.
“Terus apa yang bikin lo sedih ??” Tanya Riski dengan nada pelan seakan dia mengerti apa yang sedang Debi rasakan.
“Gue nggak mungkin saingan sama sahabat gue sendiri, lo ngerti nggak sih gimana rasanya ??”
“Gue tau, gue nggak akan ngerti sama apa yang lo rasain tapi gue tau kalo bukan itu alasan Sarah berubah sama elo”
Perlahan tetesan air mulai jatuh dari langit tapi Debi semakin nggak ngerti sama apa yang udah di omongin sama Riski.
“Maksud lo apa ?? lo tahu ??” Tanya Debi
“Gue tadi liat kalian berdua ribut di luar, sebenernya ya tadi gue pengen langsung jelasin ke kalian tentang kejadian yang sebenernya tapi gue nggak bisa. Gue terlanjur sakit hati sama lo”
“Maksud lo apa sih ?? gue nggak ngerti, lo bilang lo benci sama gue. Emang gue ada salah apa sama lo ??”
Guyuran air dari langit semakin lama semakin deras, tapi meraka berdua nggak perduli akan hal itu. Hati Debi menjadi semakin galau mendengar pengakuan Riski. Riski hanya diam mendengar pertanyaan Debi.
“Kenapa lo diem ? sebenernya apa yang lo sembunyiin dari gue ??”
“Oke !! gue ngaku, gue yang bikin kalian berantem. Gue ngomong sama Nino kalo sebenernya Sarah mau pacaran sama Nino cuma gara-gara fisik Nino yang hampir mendekati sempurna, karena Nino anak orang kaya, populer di sekolah dan Sarah cuma pengen manfaatin kelebihan Nino” jelas Riski dengan keras tapi suaranya masih terkalahkan sama derasnya hujan.
“Lalu kenapa Sarah marah sama gue ??”
“Karena saat Sarah putus sama Nino Sarah nanya sama gue kenapa gue ngomong gitu sama Nino dan gue bilang kalo elo yang cerita sama gue”
“Apa ?? kenapa lo selicik itu ?? gue nyesel udah suka sama elo !!” tanpa di sadari tiba-tiba mengalir darah dari hidung Debi.
“Lo nggak papa Deb ??” Riski khawatir dan dia berusaha mengusap darah yang ada di hidung Debi tapi Debi langsung menepis tangan Riski dan berlari meninggalkan Riski sendirian.
“Ciiiit…!!! Bruuaaak !!” mendengar itu Riski langsung berlari ke bawah untuk melihat apa yang terjadi. Setelah melihat apa yang terjadi Riski langsung merasa nggak berdaya, kakinya lemas melihat seseorang yang jatuh pingsan di depan mobil itu adalah Debi. Sementara Riski masih terpaku melihat kejadian itu Debi langsung di masukan ke dalam mobil yang tadi menabraknya untuk segera di larikan ke Rumah Sakit terdekat. Melihat mobil itu mulai membawa Debi pergi Riski langsung mengambil motornya dan mengikuti kemana mobil itu melaju dari belakang.
==*==
Sampai malam ini Riski masih di depan ruang UGD R.S Gatoel untuk menunggu kabar dari dokter dan menunggu orang tua Debi datang. Riski sangat merasa gelisah juga di sertai rasa bersalah, dia merasa kalau dia adalah penyebab terjadinya kecelakaan ini. Di saat Riski memutuskan akan pergi ke mushola Rumah Sakit untuk sholat isya tiba-tiba ada yang menghentikan langakahnya.
“Riski !!” Ternyata Sarah datang lebih dulu.
“Kebetulan lo dateng Sar, gue mau sholat dulu. Ntar ada juga yang pengen gue omongin sama elo”
“Langsung ngilang aja lo thu !! gimana keadaan Debi ??” ujar Sarah dengan nada jengkel.
“?Dokter belum ngasih kabar, dari tadi gue juga nungguin. Trus lo udah bilang ma orang tuanya Debi ??”
“Udah, tapi mereka tadi ada di Surabaya jadi mungkin mereka datang telat”
“Yaudah lo tunggu disini, gue mau sholat”
Sekitar kurang lebih 10 menit Riski selesai sholat dan kembali menemui Sarah. Disana Riski juga melihat dua orang yang masih asing di mata dia. Riski langsung berpikir kalau itu adalah orang tua Debi.
“Malem om, tante” sapa Riski pada dua orang yang di lihatnya itu.
“Malem, kamu yang namanya Riski ??” tanya ibu Debi
“Iya tante, saya minta maaf. Saya yang udah bikin Debi kecelakaan”
“Nggak papa nak, ini sudah jadi rencana Allah”
“Tapi kalau Debi nggak pergi sama saya mungkin ini nggak akan terjadi sama Debi tante. Kalau Debi nggak kecewa sama saya mungkin juga dia nggak akan lari sampai…”
“Cukup !!” potong ibu Debi sebelum Riski selesai melanjutkan kata-katanya.
Akhirnya dokter yang sedari tadi merawat Debi keluar dari ruang UGD. Orang tua Debi langsung mendekati Dokter itu.
“Gimana anak saya dok ??” Tanya ayah Debi dengan penuh rasa khawatir
“Kami sudah maksimal, tapi ma’af” ucap dokter itu penuh dengan hati-hati.
Tangisan histeris langsung di keluarkan oleh Sarah dan Ibunya Debi. Ayah Debi merasa sangat terpukul dan langsung pergi mencari tempat yang lebih sepi. Riski juga sangat merasa kehilangan di tambah lagi rasa bersalah itu semakin besar. Riski pergi juga melakukan hal yang sama dengan ayah Debi, dia pergi menjauh. Tapi ternyata mereka mereka malah bertemu di satu tempat. Mereka bertemu di kolam ikan yang berada di taman belakang ruang kamar Teratai bersama sisa hujan yang masih belum habis .
“Debi sangat suka hujan” ucap ayah Debi mengawali pembicaraan dengan Riski tanpa melihat ke arah Riski, pandangannya tertuju pada kolam ikan yang ada di depan nya.
“Saya minta maaf om, saya penyebab semua ini”
“Nggak nak, justru kamu adalah penyemangat hidup Debi”
“Maksud om ??”
“Sekitar satu tahun yang lalu Debi di Diagnosa positif terkena Leukimia”
“Apa ??” Riski kaget mendengar cerita Ayah Debi “tapi kenapa dia masih sekolah om ?? kenapa nggak istirahat saja ??”
“Debi nggak ingin diperlakukan seperti itu. Kerena dia..” belum sempat ayah Debi melanjutkan kalimatnya sudah di potong oleh panggilan ibu. Mereka berdua pergi meninggalkan tempat itu.
==*==
Setelah dua hari setelah kematian Debi.
“Maafin gue sar, gue yang salah. Ntar dah yang jelasin ke Nino” Riski mengakui apa yang sudah dia lakukan sampai akhirnya membuat Sarah dan Debi berantem.
“Ini bukan masalah Nino ris, yang jadi pertanyaan kenapa lo nglakuin itu ??”
“karena gue benci sama Debi, meskipun sebenernya rasa sayang gue lebih gede”
“Benci ?? kenapa ??”
“Karena dia udah nuker kertas ulangan gue, udah rusakin tas gue dan banyak keusilan yang lain. Gue nggak ngerti kenapa dia kayak gitu ??”
“Debi ?? dasar bego lo !! justru dia yang selama ini selametin lo !! lo tau nggak sapa orang yang udah ngerjain lo sampek kayak gitu ?? Alvin !! dia nggak suka sama elo. dia merasa lo saingan dia” mendengar penjelasan Sarah Riski hanya bisa terdiam.
Sepulang dari sekolah Riski langsung pergi ke temapat dimana Debi di makamkan. Setelah dia menemukan tempat Debi di makamkan Riski duduk di sebelahnya sambil mengelus batu nisan yang tertera nama “Debi Aulia” di atasnya .
“Gue nyesel udah berlaku kasar sama lo, nyesel udah nuduh lo yang aneh-aneh, gue nyesel udah raguin cinta lo dan yang pasti gue nyesel bohongin perasaan gue sendiri. Sekarang gue pengen minta maaf dan pengen bilang kalo gue sayang sama lo Deb. Gue suka sama lo dari pertama lo masuk sekolah tapi semua rasa itu hancur di saat gue liat lo di kelas lagi berusaha nuker bangku rusak itu ke tempat gue. Sekarang gue baru tau kalo lo sebenernya lindungin gue. Makasih Deb udah jadi “MALAIKAT PELINDUNG “gue, makasiih juga buat puisi yang lo selipin di tas pemberian Lo”.
Tersenyumlah saat kau mengingatku
Karena saat itu aku sangat merindukanmu
Dan menangislah saat kau merindukanku
Karena saat itu aku tak berada di sisimu
Tetepi pejamkanlah mata indahmu itu
Karena saat itu aku akan terasa ada di dekatmu
Karena aku telah berada di hatimu selamanya
Tak ada yang tersisa lagi untukku
Selain kenangan-kenangan indah bersamamu
Mata indah yang dahulu adalah milikku
Kini semuanya terasa jauh meninggalkanku
Kehidupan terasa kosong tanpa keindahanmu
Hati, cinta dan rinduku adalah milikmu
Cintamu tak kan pernah membebaskanku
Bagaimana mungkin aku terbang mencari cinta yang lain
Saat sayap-sayapku telah patah kerenamu
Cintamu akan tetap timggal bersamaku
Hingga akhir hayatku dan setelah kematian
Tidak ada komentar:
Posting Komentar